Mengejar Mas Nur
Tokoh ini penting dalam dunia pendidikan. Nyaris sepenting Dekan atau Mahalum kita. Pasti semua bertanya-tanya dan menduga-duga alasan kami memilih sosok ini(nggak juga sih). Sosok yang dingin namun bersinar (seperti nama merk dagangnya). Namun, ada alasan utama kami kenapa memilih Mas Nur sebagai narasumber kami saat ini : karena sejujurnya kami hanya ingin menjawab rasa ingin tahu kami akan dampak radiasi potokopi terhadap penampilan Mas Nur. Sebenarnya, ga juga sih. Hanya saja, kami terlalu terobsesi dengan kegilaan, keanehan, dan kemisteriusan yg dimiliki oleh Mas Nur.
Wawancara ini dapat kami katakan memiliki nilai usaha yg cukup gigih. Setelah kami harus pontang-panting, uring-uringan, guling-gulingan, cemas, lemas, sedih, main dorong-dorongan, dan tak bergairah hanya untuk menunggu kepastian Mas Nur untuk diwawancara. Berhubung Mas Nur selalu minta diwawancari hanya pas weekend (kayak nge-date gitu…) Tentunya, sebagai mahasiswa yang malas untuk bangun dan beraktivitas di waktu weekend, kami mau ga mau mesti merelakan waktu weekend demi bertemu Mas Cahaya kami tercinta (duilah..). Pokoknya kemanapun mas Nur pergi, akan kami kejar.
Saat diwawancara, Mas Nur mengenakan kaos biru kesayangannya, yang tak lain dan tak bukan adalah kaos tim bola Indonesia kesayangannya, Arema Malang. Pada hari itu, mas Nur sedang sibuk-sibuknya menghitung berbagai pemasukkan dan pengeluaran potokopian dengan kalkulatornya. Kayaknya sih lagi saingan pendapatan ama abang mie ayam pangsit sebelah, semangat banget! Gila!!! (pantesan aja yak, botak). Akhirnya wawancara yang kami impikan terjadi juga! Mas Nur dengan senyum sumringah menyambut kami dengan sangat ramah. Kami pun lega. 20 detik kemudian setelah kami berbasa-basi, menyiapkan alat tulis, rekaman, make-up artis dan wardrobe untuk sesi wawancara ini, kami pun mulai melancarkan aksi kami.
Mas Nur pun menjelaskan kepada kami mengenai asal-usul dari nama potokopian “SALIN SINAR”. Kami pun dibuat tak percaya dan menahan ketawa ketika kami tahu ternyata asal nama dagang potokopian memuat unsur namanya yg ‘tampaknya’ berasal dari bahasa Latin. Salin berasal dari kata menyalin. Sedangkan Sinar berasal dari Si Nur. Jadi, kalo diartikan adalah Menyalin Si Nur. Potokopian ini katanya didirikan pada tahun 2005.
Kami pun juga dibuatnya tak percaya dan tak berdaya menahan ketawa ketika kami menanyakan hal ini.
Bagol : “Mas Nur, denger-denger nih katanya nama karyawan Mas Nur semuanya memiliki nama Nur. Bener ga sih?”
Mas Nur : “Wah, iya semua pegawai di sini namanya Nur. Ada Mas Nur Rahman, Nur Joko, Nur Sukardi , Nur Anto, Nur Suprapto.. ” (Dengan muka yg sangat meyakinkan)
Bagol : ??? (bengong dan tak percaya). Kami pun langsung membayangkan beberapa teman kami sesama mahasiswa FKUX yg mungkin dapat langsung diterima menjadi pegawai Mas Nur tanpa punya keahlian potokopi dikarenakan syarat yg paling utama telah terpenuhi, yaitu memiliki nama yang diawali dengan ‘Nur’. Atau jangan2 mungkin kita bisa dapet potongan diskon potokopi asal punya nama dengan embel-embel ‘Nur’!!!! hehehehe.
Mas Nur : “ Ya, ga donk. Hanya saya yg punya nama Nur di sini.”
Bagol : “huah..” (leganyaaaa..). Melanjutkan pertanyaan lainnya. “Mas Nur, ngomong-ngomong ada berapa org yg kerja di sini?”
Mas Nur : “Ada 10 orang. 6 orang di dalam. 2 orang di luar. 2 lagi jalan-jalan.”
Bagol : “Hah, jalan-jalan? Maksudnya delipery, Mas?
Mas Nur : “Nah, itu dia maksud saya.”
Ini dia nih baru namanya potokopian.. pake delipery segala. Tinggal telepon. Hehehe. Kami akhirnya menyadari kegunaan telepon yg berada di potokopian Mas Nur. Ternyata, memang dipergunakan untuk menerima layanan antar jemput potokopian. Ck..ck..ck.. kagak kalah deh ama abang deliperi KaePCi. Hehehehe.
Bagol : “Mas Nur, bisa deliperi ampe Ciledug ga?”
Mas Nur : “Jangankan Ciledug, ampe ciputat mah udah pernah nganterin.”
Bujug busyeeeet..
Di sela-sela wawancara kami, lagu-lagu di radio kesayangannya menjadi penghangat suasana di antara kami. Wawancara pun terkesan lebih akrab. Selidik punya selidik, ternyata mas Nur pencinta musik juga. Selain Eli Eboy tentunya.
Bagol : “Mas Nur, suka dengerin radio apa?”
Mas Nur : “Yah, GEN EpEm dooonk.” (dengan gaya sok gaul!). “Tetapi, saya juga suka ngedengerin Ria FM nya Depok.
Bagol : (gila, gaul banget yak mas Nur) “Mas Nur, aliran musiknya apa neh?”
Mas Nur : “Wah, saya mah suka apa aja. Dari mulai dangdut sampai regae. Dari mulai pop rock, keroncong, jazz, pokoknya semuanya. Tapi, ada satu aliran musik yang paling saya suka.”
Bagol : “Apa itu Mas Nur?” (dengan nada sangat penasaran)
Mas Nur : “Perpaduan dari segala jenis musik yang saya sebutkan tadi.”
Bagol : (Gila bahasanya..)”Apa itu?”
Mas Nur : (dengan muka penuh keyakinan).“Campur Sari”
Bagol : “Hah?” (masih tak percaya menanggapi musik campur sari merupakan perpaduan dari semua unsur musik yg disukai Mas Nur)
Kemudian yang membuat kami kaget lagi, beliau langsung menyanyikan beberapa bait lagu campur sari kesukaannya. Membuat kami berkeinginan untuk bertanya. Menurut keterangan beliau, lagu itu berjudul Tirto Nadji.
Bagol : “Mas Nur, suaranya bagus juga yah. Kayaknya ikutan Indonesian idol atau idola cilik, cocok tuh.”
Mas Nur : “Yah, ga bisa dan ga boleh dong”
Bagol : “kenapa Mas Nur?”
Mas Nur : “yah jelas dong, kan panitia ga boleh ikut.” (dengan tenangnya menjawab, sambil memencet-memencet kalkulatornya)
Bagol : “Emangnya, jadi panitia apa Mas Nur?” (merasa dibodohi)
Mas Nur : “Seksi Konsumsi dan potokopi formulir” (dengan muka yang sangat serius)
Bagol : “Hah?” (menahan gejolak ingin tertawa).
Mas Nur : (melanjutkan pembicaraan)“Sebenarnya, saya lebih suka jadi pencipta lagu campur sari. Cuma yah, saya takut direkrut orang. Selain itu, takut saingan ama Tompi. Takut ga temenan lagi.” (dengan muka yang sangat serius)
Bagol : (masih kaget dengan pernyataan Mas Nur). “Emangnya Mas Nur kenal ama Tompi?”
Mas Nur : “Yah, kenal dong. Tompi kan temen jumatan bareng. Kita sering sebelah-sebelahan.”
Bagol : (masih tak percaya dengan ucapan-ucapan Mas Nur, tapi kami membayangkan mungkin saja Tompi kenal ama Mas Nur, untuk lebih pastinya bisa dilihat pada ‘ucapan terima kasih’ di albumnya Tompi, mungkin tertulis nama Mas Nur di sana. Hehehehehe). “Mas Nur, mesin potokopi paling canggih yang mana?”(mengalihkan pembicaraan)
Mas Nur : “semuanya canggih. Kan semuanya dirawat dengan rinso, pedicure, dan manicure.”
Bagol : “hah?” (akan banyak kata ‘hah’ dalam wawancara ini). “Berniat buka cabang ga?”
Mas Nur : “Boleh sih, asal tempatnya cukup strategis.”
Bagol : “oooh..”(bingung mau nanya apa lagi, tiba-tiba melihat ke arah baju yang dipakai oleh Mas Nur dan mendapatkan ide untuk bertanya) “Mas Nur, suka Arema Malang yah?”
Mas Nur : “Iya dong, dulu saya sering nonton pertandingannya secara langsung. Tapi, sekarang sih sudah males, karena suka rusuh dan penuh.”
Bagol : “Suka nonton di stadion di mana Mas Nur?”
Mas Nur : “Yah, stadion mana aja. Kan saya nontonnya langsung dari tipi.”
Bagol : “Hualahah dari tipi toh?”
Pembicaraan terus mengalir, mengenai latar belakang kehidupan keluarganya, dan bahkan kami sempat diberi beberapa petuah tentang makna hidup khususnya di bidang perpotokopian.
Mas Nur : “Saya sih tidak menggangap potokopian lainnya sebagai saingan. Karena kita semua berjalan bersama-sama.”
Ajiiiibbb… Nah, teman-teman untuk kalian merasa pernah berpotokopian selembar doang. Berikut tanggapan Mas Nur.
Mas Nur : “ Yah, kalo ada yang potokopi Cuma selembar sih sukarela aja. Kalo mau bayar yah bagus, kalo ga mah kurang ajar. ”
Intinya, ada juga orang yang lebih gila dari badan Golgi.. orang yang kami wawancarai ini punya segudang jawaban aneh atas pertanyaan kami. Atau memang mungkin virus kegilaan sudah menyebar di kampus FKUX.
Wawancara ini sudah diizinkan untuk diterbitkan oleh Mas Nur sendiri…hehe. termasuk masalah kebotakannya.
©Badan Golgi. MMVIII.